just a daily story. happy reading!
RSS

Jumat, 08 Januari 2010

Jazz?

sebenernya ini iseng-iseng aja sih, but i totally adore this :

Banyak anggapan di Indonesia, Jazz itu musik orang kaya atau kelas atas, I totally disagree... Jazz kalo di sejarah lahir dari tangisan budak-budak.

Indonesia menciptakan trend kaya gitu, seperti sekarang dimana musik jazz seolah-olah adalah 'musik gaul', banyak orang mendadak ngejazz, which is good!

At least orang-orang yang tadinya anti sama jazz, wants to check it out, just for the sake of being gaul. Tapi pasti mereka tertarik untuk mencari tau lebih dalam.

Ironis sih jadinya, cuma mau gimana lagi? Mereka yang ngga struggle memperjuangkan Jazz tapi menjadi representatif musik tersebut, bermodalkan porkpie hats & vest.

Sementara musisi jazz dari jaman bokap gw dulu hidup dan kadang meninggal dalam keprihatinan, begitu juga dengan generasi jazz baru, we fight everyday.

Sometimes we have to find out how to go thru the week with only half a million in the pocket, when u got bills to pay, & tummies to fiill.

Sometimes we have to choose, beli senar/stick baru, beli bensin, reparasi kulkas, bayar kontrakan or as simple as what to eat.

But you know what? That's the art of Jazz, art of struggle, how to get over with your sorrows & sadness, and transform it to a simple blues.

The art of smiling thru the bars of "all the things you are", when you don't know how to go home if they don't pay you right after the gig..

Jadi buat gw, musik jazz akan tetap jadi musiknya orang susah, cause you wouldn't have the blues if you got an Alphard waitin for you in the parking lot.

You wouldn't be able to sing "God bless the child" with SOUL when don't have to worry cause you know you got bread served on your table everyday.

Barry Likumahuwa.

1 komentar:

Ariesta mengatakan...

Hey Cha...
Klo jaman papa sma sama kuliah (80-90's), musik jazz yg original ga begitu rame. Yang rame itu derivatifnya, fushion. Jaman segitu ada banyak group musik fushion yg ngetop, digandrungi orang-orang. Mulai dari yg agak tuaan dikit macam Bob James, sampai yg anak-anak muda dari Jepang spt Casiopea n Himiko Kikuchi.

Dulu papa sempet ngumpulin banyak kaset, mulai dari Lee Riteneour, Tom Grant, Mezzoforte, Spyrogira, Casiopea, Dave Valentin, Didier Lockwood... dll. Sampai suatu saat di tahun 90'an banyak muncul grup2 fushion di negeri kita macam Baskara, Karimata, Black Fantasy,Spirit, Krakatau, dan masih banyak lainnya. Sedikit sekali vokalis jazz, di indonesia yg masuk bagus ya macam Bertha, Komala Ayu, Vonny Sumelang, Ermy Kulit, Nunung Wardiman.

Klo yg papa tau, jazz itu asalnya sama-sama dari musik Gosphel kaya yg lainnya. Jenis musik itu berubah ada yang mengalir jadi blues. Dari blues ini bercabang, jadi swing dan rock 'n roll (bassnya sama-sama berayun). Yg swing jadi jazz, yg rock 'n roll ya jadi musik rock sekarang ini.

Tapi dengerin berkali-kali, tetep gak ngeresep. Enak sih jazz.. Tapi harus pake mikir, abis ini larinya mau kmana.. nebak-nebak, akhirnya papa brenti jadi penggemar jazz.. dan tetap konsisten jadi penggemar nasi pecel hehehe..

Soal selera aja Cha, bagi papa, musik indah itu tetap yg berasal dari suara gitar dengan distorsinya. Lebih khidmat dengerin Yngwie mainin Icarus dream, atau Joe Satriani bermain the extremist, daripada dengerin liukan biola Didier Lockwood atau alunan seruling Dave Valentin...

Tapi buat papa, teteup suara kamu yg paling indah... <3

Poskan Komentar